Silahkan Login atau Signup
Email:
Password:
  Home     e-Store     Etalase     Keranjang     Pembayaran     Cara Pemesanan     Tutorial     Recruitment     Kontak  
           Etalase
           Tutorial
           Bantuan & Dukungan
WhatApps, Line, WeChat
(+62)-816-1324-727
           Kontak

          Didukung Oleh:









Thursday, 19-Oct-2017


 Bandung-Aeromodeling >> Tutorial >> Propeller >> Propeller dan Prestasi Terbang Pesawat Model
 

5    

    Propeller dan Prestasi Terbang Pesawat Model




(Click to Enlarge Thumbnail)

Date Created: 23-Aug-2013
Created By: Budi Atmoko
Category: Propeller

Propeller dan Prestasi Terbang Pesawat Model


Propeller dan Prestasi Terbang Pesawat Model

Propeler atau yang lebih dikenal sebagai baling-baling merupakan bagian dari sistem propulsi yang bertugas untuk menarik atau mendorong suatu pesawat terbang untuk melaju diudara seperti kita ketahui bahwa pesawat akan dapat terbang apabila gaya angkat terjadi pada sayap atau bidang bidang angkat lainnya. Dan dari prinsip aerodinamika gaya angkat ditimbulkan akibat adanya pergerakan relatif antara sayap dengan udara. Baling-baling ini berputar bagaikan sayap- sayap kecil yang bekerja seperti skup udara atau airscrew.

Sebenarnya propeler ini merupakan sistem propulsi yang bertugas mentransmisikan daya dari engine atau motor sebagai penggerak mula atau prime mover ke udara. Transmisi daya yang terjadi digunakan nantinya untuk melawan gaya tahan atau drag yang bersifat menghambat pesawat terbang model untuk terbang melaju. Sistem propulsi yang baik akan diperlukan ketika pesawat model akan mengudara atau take off , menanjak dan juga saat melakukan manouver.

Hal apa saja yang perlu diperhatikan untuk memilih propeler yang baik untuk pesawat model kita. Pertama kali yang harus kita perhatikan adalah diameternya. Diameter dalam hal ini adalah jarak atau ukuran dari tepi baling-baling satu ketepi baling-baling lainnya. Pemilihan diameter ini disesuaikan dengan daya yang bisa dihasilkan oleh engine atau motor yang kita pergunakan. Diameter yang terlalu kecil akan menyebabkan motor berputar terlalu cepat dan konsekwensinya tidak dapat menyalurkan daya engine tersebut ke udara, sedangkan dengan diameter propeller yang terlalu besar, motor penggeraknya tidak dapat mencapai daya maksimumnya sehingga kita tidak dapat memperoleh daya dorong dari sistem propulsi tersebut secara optimal.

Kita mengetahui bahwa daya maksimum sebuah motor baik itu engine, motor listrik maupun motor CO2 dan motor tenaga karet akan dapat dihasilkan pada suatu kondisi putaran dan beban tertentu. Biasanya hal ini digambarkan dari kurva putaran terhadap gaya yang diberikan oleh produsen atau pabrik pembuat motor tersebut, pemilihan pitchnya atau sudut untuk majunya disesuaikan dengan kegunaannya yang dalam hal ini di definisikan sebagai rasio kemajuan atau advance ratio.

Pesawat yang akan berarobatik dengan kecepatan rendah misalnya pada pesawat model radio control jenis fun fly atau juga pesawat aerobatik 3D dengan berat terbang relatif sangat ringan ini akan menggunakan propeler dengan pitch yang kecil. Disini akan terjadi suatu efisiensi yang baik pada kecepatan terbang yang rendah dengan Rpm mesin yang tinggi. Dikondisi yang lain terutama di penerbangan dengan kecepatan yang tinggi khususnya di arena balap untuk pesawat-pesawat terbang pylon race diperlukan propeler-propeler dengan pitch yang besar atau sudut yang besar. Sebab disini akan terjadi aliran udara berkecepatan tinggi pada putaran poros yang tinggi juga.

Kemudian bagaimana dengan penggunaan berbagai jenis propeler yang beredar dipasaran. Kita mengetahui bahwa bentuk dari propelernya itu sendiri bermacam-macam. Dari desain pembuatnya propeler itu dirancang seefisien mungkin, sering kali plan form atau bentuk proyeksi dari baling-balingnya sendiri akan mendekati bentuk bentuk eliptikal ini sebenarnya ditujukan untuk memberikan efisiensi gaya atau keseragaman daya angkat yang terjadi. Propeler yang lebih efisien akan memberikan daya dorong yang lebih tinggi tetapi dari segi praktisnya saya bisa mengenali bahwa propeler yang lebih efisien biasanya beroperasi lebih diam atau silent, tetapi lebih bertenaga.

Kita mengetahui ada beberapa jenis bahan untuk membuat propeler dari mulai plastik dan karet sintetis yang fleksibel kemudian fiber glass,nilon dan kayu yang lebih kaku serta serat carbon yang paling rigid. Beberapa merk seperti GWS yang membuat propeler dari plastik yang lentur, kemudian kita mengenal juga MK dari Jepang yang membuat dari nilon yang berserat fiber, juga master airscrew dari Amerika serikat yang membuat dari nilon berserat carbon. Propeler yang memiliki fleksibilitas artinya yang terbuat dari bahan yang fleksibel misalnya karet sering mengalami perubahan sudut atau pitch pada putaran yang beban yang tinggi. Disini sering kali menimbulkan perubahan atau pengurangan tenaga atau daya dorong yang terjadi. Namun untungnya propeler-propeler yang fleksibel seperti ini apabila suatu saat kita mendarat kurang mulus atau kress sama sekali propelernya tidak patah atau putus. Dari segi ekonomi hal memang menguntung kan.

Di sisi lain untuk propeler yang terbuat dari serat carbon juga nilon berserat carbon yang bersifat lebih rigid memang akan memberikan daya dorong atau gaya tarik yang lebih baik pada putaran poros yang maksimal. Dan propeler yang seperti ini akan bekerja lebih efisien khususnya pada penerbangan-penerbangan yang memerlukan daya besar seperti aerobatik. Namun sayang propeler seperti ini seringkali mudah patah dan mudah mengalami cacat akibat benturan pada waktu kita salah mendarat atau akibat keteledoran yang mungkin sebenarnya tidak terlalu fatal. Untuk itu kita harus memilih beberapa baling-baling yang kira-kira memberikan hasil yang optimal pada pesawat terbang yang akan kita pergunakan.

Aplikasi untuk pesawat model radio control trainer dapat kita definisikan secara umum misalnya untuk pesawat terbang model seperti halnya Trainer 20, Qb.15 atau Cessna 172-20 yang kebanyakan menggunakan engine 2,5 cc atau maksimal 4 cc itu dapat menggunakan propeler yang berukuran berdiameter 8 inci atau kira-kira 20 cm. Pitch yang diambil dapat bervariasi antara 4 inci hingga 6 inci. Jadi propeler yang dipergunakan dapat bervariasi antara 8 x 4 hingga 8 x 6. Untuk penggunaan di kecepatan rendah, saya menyarankan memilih propeler dengan ukuran 8 x 4. Pesawat model radio control trainer 25 seperti halnya QB.25 atau Sport Star 25 cenderung untuk beroperasi lebih baik jika menggunakan propeler 9 inci. Tersedia berbagai pilihan diantaranya berukuran 9 x 5 atau 9 x 6. Untuk anda yang baru belajar sebaiknya menggunakan propeler yang lebih tahan benturan seperti halnya Master Airscrew ,atau apabila ingin lebih tahan lagi menggunakan propeler dari Graupner yang terbuat dari bahan yang lebih lentur. Saya pernah menjumpai propeler dari Thaiwan bermerk Thunder bird itu bersifat sangat fleksibel ini mungkin sangat menguntungkan buat anda yang baru berlatih yang sering jatuh bangun.

Pesawat trainer berengine 40 seperti halnya Eagle 2 atau QB.40 atau mungkin PT.40 seringkali memakai berbagai pilihan engine disini kita bisa menggunakan engine standar non ball bearing seperti halnya OS 40 FP atau Thunder Tiger 40 JP atau mungkin dari ASP 40 atau Magnum 40 dapat menggunakan propeler 10 inci dengan picth 5 himgga 6 inci. Kita bisa menggunakan propeler dari master airscrew 10 x 5 atau 10 x 6 atau untuk anda yang ingin berlatih dengan prestasi yang lebih baik dapat menggunakan propeler APC 10 x 6 . Untuk trainer yang menggunakan engine dengan prestasi yang lebih baik misalnya engine-engine yang ber ball bearing sepeti Thunder Tiger Pro 46,OS 46 SX/AX, propeler dengan diameter 11 inci akan lebih bertenaga dan lebih efisien untuk dipergunakan hasil yang disukai baik ketika pesawat akan lepas landas maupun untuk penerbangan selama latihan.

Untuk penerbangan aerobatik pada umumnya pesawat menggunakan engine berdaya besar. Yang saya jumpai dilapangan pesawat Model Cessna Skylane 46 dengan engine 7,5 cc seperti halnya engine Thunder Tiger pro 46 atau OS 46 SX/AX itu yang beroperasi dengan sistem dua langkah sebaiknya kita beri propeler dengan diameter 11 inci dengan pitch antara 5 hingga 7. Hal ini tergantung dari pesawatnya itu sendiri apabila wing loading atau pembebanan sayapnya dirasakan cukup kecil, lebih disarankan untuk menggunakan pitch yang kecil. Pesawat akan terbang dengan kecepatan lebih rendah namun bertenaga.

Untuk pesawat terbang dengan jenis aerobatik berklass 10 cc itu dapat ditenagai dengan engine 60 atau engine 10 cc maupun engine 90 atau engine 15 cc yang bersistem empat langkah. Untuk pesawat yang ditenagai engine 60 yang beroperasi dengan sistem dua langkah propeler yang dapat dipergunakan adalah yang berukuran 12 x 7 hingga 12 x 8, sedangkan untuk pesawat terbang model aerobatik yang berengine 91 yang beroperasi dengan 4 langkah, kita dapat memilih propeler yang berdiameter 11 inci dengan picth yang lebih besar yakni 8 hingga 10 inci.

Apabila anda ingin menerbangkan pesawat terbang untuk keperluan balap atau racing juga untuk keperluan speed atau kecepatan, maka propeler dengan pitch yang besar itu merupakan pilihan utama, disini anda bisa memilih propeler dengan pitch 8 hingga 10, tergantung dari rekomendasi dari pabrik yang membuat engine tersebut. Beberapa kali pengujian atau percobaan dapat anda lakukan untuk memperoleh hasil terbaik dari aplikasi masing-masing propeler atau baling-baling. Tentunya anda sendiri tidak ingin beroperasi atau menerbangkan pesawat terbang model dengan engine yang dayanya tidak keluar secara optimal. Percuma saja. Disini ditekankan anda akan mengoperasikan suatu sistem yang merupakan pesawat terbang model dengan daya dari engine yang tersalurkan secara maksimal dan anda juga memperoleh prestasi yang membuat teman-teman bergembira dan juga mengagumi penerbangan dari pesawat model tersebut.


16109 people view it
 



 


  Tutorial Teranyar (lihat semua)


Setting dan Menerbangkan Free Flight Glider R/C OPTIMAE 2500 Electric
Merakit dan membuat Free Flight Glider R/C OPTIMAE 2500 Electric. Untuk siswa yang belajar pesawat free flight namun di kontrol oleh Radio Kontrol ... (Lihat)
Date Created: 08-Apr-2014
3710 people view it
 


Merakit dan membuat Free Flight Glider R/C OPTIMAE 2500 Electric
Merakit dan membuat Free Flight Glider R/C OPTIMAE 2500 Electric. Untuk siswa yang belajar pesawat free flight namun di kontrol oleh Radio Kontrol ... (Lihat)
Date Created: 24-Mar-2014
6177 people view it
 


Bagaimana merakit dan menerbangkan Rubber Powered Glider Pelangi-45
Merakit dan menerbangkan Rubber Powered Glider Pelangi-45 ternyata asyik juga, wah anak kecil juga bisa ya ? ... (Lihat)
Date Created: 17-Mar-2014
13762 people view it
 

  Tutorial Unggulan (lihat semua)


Asyiknya Belajar Merakit Sendiri Pesawat Model
Pelajar juga bisa merakit Pesawat Pelangi 50 chuck glider dan Pelangi 70 rubber powered Glider ... (Lihat)
Date Created: 01-Jun-2013
8847 people view it
 


  Produk Baru (lihat semua)
Pelangi 45 Free Flight Rubber Powered Glider
Price: Rp. 65,000 / Rp. 70,000 / Rp. 75,000
View: 1,000

Plan Eagle 40 S R/C Sport Trainer
Price: Rp. 50,000
View: 308

Plan QB15 R/C Trainer
Price: Rp. 50,000
View: 862


  Produk Unggulan (lihat semua)
Pelangi 70 Free Flight Rubber Powered Glider (Pack of Six)
Price: Rp. 390,000 / Rp. 410,000 / Rp. 425,000
View: 1,000

Cessna 172 Skyhawk Electric Trainer
Price: Rp. 725,000 / Rp. 825,000 / Rp. 950,000
View: 1,000

Cessna 206 Electric Trainer
Price: Rp. 600,000 / Rp. 725,000 / Rp. 825,000
View: 1,000

 Tetang Kami   Tanya Jawab   Kontak Kami 
 Pembayaran 
Copyright @ 2013, 2014 Bandung-Aeromodeling.com. Allrights reserved.